SULTAN ISKANDAR MUDA

Posted: Maret 14, 2012 in Uncategorized

haii sahabat wordpress…kali ini saya mau posting tentang sultan iskandar muda

smoga bermanfaat ya,,,

Sultan Iskandar Muda merupakan tokoh penting dalam sejarah Aceh. Dalam sejah Aceh, ia merupakan Sultan terbesar dalam masa Kesultanan Aceh yang berkuasa dari tahun 1607 sampai 1636. Di masa pemerintahannya Aceh mengalami masa kejayaannya, mampu menempatkan kerajaan Islam Aceh di peringkat kelima di antara kerajaan terbesar Islam di dunia. Ketika itu Banda Aceh yang merupakan pusat Kerajaan Aceh, menjadi kawasan bandar perniagaan yang ramai karena berhubungan dagang dengan dunia internasional, terutama kawasan Nusantara di mana Selat Malaka merupakan jalur lalu lintas pelayaran kapal-kapal niaga asing untuk mengangkut hasil bumi Asia ke Eropa.

 

Pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan Melayu yang memiliki Balee Ceureumeen atau Aula Kaca di dalam Istananya. Menurut penuturan, Istana Kesultanan Aceh luasnya tak kurang dari dua kilometer. Istana tersebut bernama Istana Dalam Darud Donya (kini Meuligo Aceh, kediaman Gubernur). Di dalamnya meliputi Medan Khayali dan Medan Khaerani yang mampu menampung 300 ekor pasukan gajah. Sultan Iskandar Muda juga memerintahkan untuk memindahkan aliran Sungai Krueng Aceh hingga mengaliri istananya (sungai ini hingga sekarang masih dapat dilihat, mengalir tenang di sekitar Meuligoe). Di sanalah Sultan seringkali berenang sambil menjamu tetamu-tetamunya.

 

Sultan membuktikan bahwa dirinya bisa bisa bertindak adil, bahkan terhadap anak kandungnya. Putranya yang bernama Meurah Pupok (anak dari isterinya yang bergelar Putri Gayo) menyenangi balapan kuda. Sementara dari isterinya yang bernama Putri Sani (berasal dari Ribee, Pidie, Aceh) ia dikaruniai seorang putri yang akhirnya menjadi salah seorang Sultanah Aceh yaitu Sultanah Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675). Ratu Safiatuddin ini kelak bersuamikan anak Sultan Ahmad Syah, Pahang, Malaysia yang akhirnya menjadi Sultan ke-13 setelah Sultan Iskandar Muda. Ia adalah Sultan Iskandar Thani (II) (1636-1641).

 

Tragedi Meurah Pupok

 

Seperti kebanyakan kisah kerajaan, Aceh pun memiliki banyak pengalaman tragis. Diriwayatkan bahwa Sang Putra Mahkota, Meurah Pupok, harus mengakhiri hidupnya di ujung pedang ayahanda tercinta dan agung, Sultan Iskandar Muda. Meurah Pupok dituduh telah berbuat zina. Konon Meurah memiliki perilaku yang buruk sehingga ia tertangkap basah sedang berselingkuh dengan isteri orang. Yang menangkap adalah sang suami, di rumahnya sendiri pula. Sang suami mencabut rencong, ditusukkannya ke tubuh isterinya yang berbuat serong. Sang suami kemudian melaporkan langsung kepada Sultan, dan setelah itu di depan rajanya sang suami kemudian melakukan bunuh diri. Kasus memalukan ini sangat mencoreng kehormatan kerajaan. Maka kepada si pelaku sekalipun dia anak raja, harus dihukum sebagai ganjaran atas perbuatannya.

 

Mate aneuk meupat jeurat, gadoh adat hana pat tamita, adalah ungkapan filosofis yang beranjak dari peristiwa penghukuman oleh Sultan terhadap Putra Mahkota. Artinya kira-kira Mati Anak Boleh Dicari Kuburnya, Tetapi Mati Adat Dimana Lagi Mau Dicari. Maksud ‘adat’ didalam ayat ini adalah adat-adat yang Islami yang diterapkan di bumi Aceh Darussalam pada masa itu.

 

Adat harus ditegakkan meski anak harus dikorbankan. Sebab menegakkan adat identik dengan menegakkan hukum Islam. Hukom ngen adat lage zat ngen sifheut.Tuduhan berbuat zina dialamatkan kepada Meurah Pupok, namun tidak umum diketahui bagaimana proses peradilan berdasarkan hukum Islam terhadapnya. Tidak jelas siapa nama empat orang saksi yang dihadapkan ke muka pengadilan. Siapa saja yang bertindak sebagai hakim yang mengadili kasus ini. Sebab walaupun raja adalah penentu tertinggi, tapi sebagai sebuah kerajaan Islam, tentulah ketentuan-ketentuan syari’at dijunjung tinggi.

 

Maka timbullah ucapan kebanggaan orang Aceh: Adat bak Po Temeuruhoom, Hukom bak Syiah Kuala. Adat dipelihara Sultan Iskandar Muda, sedang pelaksanaan hukum atau agama di bawah pertimbangan Syiah Kuala.

 

Lokasi tempat makam Murah Pupok di kemudian hari dijadikan kompleks pekuburan tentara Belanda yang terkenal dengan nama “KerKhoff Peutjoet” yang dikatakan sebagai kuburan Belanda terluas di luar Negeri Belanda. Sehingga bagi yang sedikit jeli, akan bisa melihat betapa ditengah ribuan makam tentara Belanda tersebut terdapat satu makam tanpa identitas dan tidak terawat yang disampingnya terpasang papan peringatan dari Dinas Kebudayaan yang menyatakan bahwa itu adalah Makam Meurah Pupok.

 

Namun menurut sebuah sumber lain, tragedi Meurah Pupok ini sebetulnya memang telah dirancang sedemikian rupa oleh kelompok politisi istana yang berkhianat. Mereka dengan licik memanfaatkan Meurah Pupok yang tengah terjerat cinta. Konon ini merupakan permainan kelas tinggi. Meurah yang menjadi target, masih teramat lugu dengan kemudaannya sehingga tidak menyadari jebakan tersebut. Maka akhirnya pengkondisian itu berjalan sukses. Pupok terbukti berzina. Memang ia merupakan anak raja, tapi hukum syariah tidak boleh dinodai. Pupok mati.

 

Dengan demikian satu-satunya pewaris tahta telah tiada. Yang diuntungkan, para pengkhianat tentu bersorak. Tetapi versi kedua dari tragedi Meurah Pupok ini tidak terlalu populer di kalangan masyarakat Aceh karena tidak didukung oleh fakta sejarah yang kuat. Wallahualam.

[sumber mbah google]

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s